Minggu, 20 Mei 2012

5/20/2012 07:46:00 PM


What time is it? Pertanyaan ini tidak akan mudah untuk dibuatkan jawaban yang bersifat universal. Saat pertanyaan ini disampaikan lewat internet kepada warga dunia, jawabannya akan berbeda-beda sesuai dengan posisi geografisnya. Bagi seorang bos perusahaan multinasional, perbedaan jawaban soal waktu ini akan menjadi dasar yang sangat penting dalam mengambil keputusan.


Rupanya, problem perbedaan waktu ini bukan baru dirasakan sekarang. Sejak transportasi berkembang di sekitar abad ke-17, penghitungan waktu menjadi isu krusial. Saat itu, pendulum jam mulai ditemukan. Penghitungan waktu saat itu rupanya juga bisa digunakan untuk menunjukkan posisi kapal yang berlayar di tengah laut.

Ahli ilmu pengukuran waktu (horologi) asal Inggris, John Harrison di tahun 1764 berhasil membuktikan penggunaan jam waktu untuk menentukan posisi kapal di tengah laut dengan tingkat akurasi tinggi. Di tahun 1765 barulah ditemukan kronometer, alat untuk mengukur lokasi berdasar waktu pergerakan sebuah objek. Alat ini kemudian menjadi sangat populer di kalangan pelaut.

Meski alat pengukur waktu berdasar lokasi sudah ditemukan, menurut situs timeanddate.com, saat itu pengukuran waktu di masing-masing wilayah masih berjalan sendiri-sendiri. Para penguasa wilayah menetapkan pengukuran waktu hanya berdasarkan siklus matahari terbenam dan matahari terbit.

Memasuki abad ke-19, hawa globalisasi mulai terasa. Manusia sudah bisa bergerak dari satu tempat ke tempat lain yang berjarak jauh dalam waktu relatif singkat. Di sekitar tahun 1800-an, kapal-kapal makin banyak yang berlayar dan kereta apu juga mulai dikenalkan di Amerika. Namun demikian, saat itu standar waktunya masih berjalan sendiri-sendiri.

Menurut catatan perpustakaan Kongres Amerika Serikat (AS), di tahun itu kereta api di wilayah tersebut sudah cukup berkembang. Di seluruh AS terdapat sekitar 300 stasiun kereta api. Namun demikian, masing-masing stasiun masih menggunakan jam sendiri-sendiri yang berbeda satu sama lain. Akibatnya sering terjadi kekacauan dalam hal waktu.

Pada 18 November 1883, pemerintah AS kemudian membagi wilayahnya dalam empat zona waktu. Hal ini dilakukan tidak lain untuk membuat pengaturan waktu yang lebih baik. Sinkronisasi perjalanan kereta api yang satu dengan kereta api lain yang saat itu sudah dilengkapi dengan 100 jalur rel bisa berjalan baik. Perjalan kereta api pun menjadi tidak kacau.

Rupanya, apa yang terjadi di AS ini juga dirasakan oleh negara-negara yang lain. Akibatnya kemudian banyak negara yang berpikir untuk membuat pengukuran waktu yang lebih baik. Ditambah lagi, saat itu sudah mulai dikenal dunia penerbangan yang bisa melintas jarak sangat jauh dalam waktu sangat singkat.

Akhirnya di tahun 1884 dilangsungkan konferensi internasional pengaturan waktu dunia. Hasilnya, konferensi itu menyepakati adanya 24 zona waktu diseluruh dunia. Berdasar kesepakatan para peserta konferensi tersebut, kota Greenwich kemudian ditetapkan sebagai titik nol dasar penghitungan waktu dunia. Hingga saat ini, patokan tersebut masuk dipakai.
 

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...